181 CEO Dunia Sepakat Tujuan Sosial Perusahaan di Atas Profit


Published 02 Sep 2019 4:25

Pada 19 Agustus lalu Bussiness Roundtable mengeluarkan surat terbuka berjudul “Statement on the Purpose of a Corporation”. Pada Bussiness Roundtable (BR) termasuk di dalamnya CEO Apple hingga Walmart dikabarkan telah menandatangani surat terbuka tersebut. Dalam pernyataan akhir surat tersebut dinyatakan bahwa para CEO perusahaan terkemuka Amerika Serikat (AS) berkomitmen akan memberikan nilai-nilai perusahaan demi kesuksesan masa depan perusahaan, komunitas, dan juga negara.

“Masing-masing pemangku kepentingan kami sangat penting. Kami berkomitmen untuk memberikan nilai kepada mereka semua, untuk kesuksesan masa depan perusahaan kami, komunitas kami, dan negara kami,” tulis BR dikutip dari hbr.org.

Namun jika melihat jauh ke belakang, pernyataan BR tersebut bertolak belakang dengan pendapat yang dikemukakan oleh profesor ekonomi Universitas Chicago Milton Friedman. Secara singkat pernyataan Friedman mengatakan bahwa bisnis dalam bisnis adalah bisnis, dan satu-satunya fokus CEO adalah memaksimalkan keuntungan bisnis itu.

Dilansir dari hbr.org, pandangan tersebut berarti korporasi bertanggung jawab kepada lima daerah pemilihan, dengan pemegang saham lainnya hanya satu. Pernyataan tersebut walaupun tidak terkenal namun memiliki dukungan dari CEO yang mewakili hampir 30% dari total kapitalis pasar AS.

Kritik utama yang disampaikan terhadap kapitalisme ini adalah tujuan apa pun selain laba pemegang saham menghasilkan kurangnya fokus dan berakhir dengan korupsi. Dengan kata lain, CEO dapat menjadi penengah yang melayani diri sendiri dari nilai sosial dan dapat mengalihkan sumber daya untuk memperkaya diri sendiri dengan kedok ‘tujuan’.

Tetapi, dalam surat yang diterbitkan pada tahun 2019 untuk para CEO, Larry Fink selaku CEO BlackRock menyatakan menolak terhadap asumsi di atas. Menurutnya, “Tujuan perusahaan sejatinya bukan semata-mata mengejar profit, tetapi kekuatan yang menjiwai untuk mencapai profit tersebut. Profit sendiri sama sekali tidak konsisten dengan tujuan – pada kenyataannya, laba dan tujuan terkait erat.”

Lebih lanjut hbr.org melakukan riset terhadap 1,5 juta pekerja dari ribuan perusahaan yang seirama dengan pernyataan Larry Fink dan BR. Riset tersebut menyatakan, jika perusahaan memiliki tujuan perusahaan yang kuat, maka para karyawannya akan merasakan makna dan dampak yang lebih besar dalam pekerjaan mereka.

Hasil ini pun mampu merefleksikan kalimat pembuka dalam laporan BR: “Orang Amerika berhak atas ekonomi yang memungkinkan setiap orang untuk berhasil melalui kerja keras dan kreativitas dan untuk menjalani kehidupan yang penuh makna dan martabat”.