Tren Perekrutan Karyawan


Published 06 Feb 2020 4:39

Tren Perekrutan 2020: Mencari Karyawan kian Kompleks

Membangun sebuah bisnis mutlak membutuhkan tenaga kerja seiring perkembangan ukuran bisnis tersebut. Semakin besar bisnis yang dibangun, semakin besar pula tenaga kerja yang dibutuhkan. Tenaga kerja pun kini semakin berharga dan menjadi aset perusahaan yang mesti dicari dan dijaga dengan baik.

Mengawali tahun 2020, konsultan global di bidang kesehatan, kesejahteraan dan karier Mercer mengeluarkan study bertajuk “Total Remuneration Survey 2019”. Temuan ini pun melahirkan beberapa wawasan menarik yang bisa menjadi tren tahun 2020. Berikut beberapa tren perekrutan yang dirangkum dari berbagai sumber:

Kenaikan gaji

Berdasarkan studi tersebut, kenaikan gaji karyawan di industri-industri utama pada tahun 2020 diprediksi sebesar 7,6%, dan tingkat inflasi juga diprediksi meningkat menjadi 3,3% (dari 2,9% pada tahun 2019). Prediksi ini dibuat berdasarkan partisipasi 569 perusahaan lintas industri di Indonesia (jumlahnya telah bertambah dari 545 perusahaan tahun lalu).

Rekrutmen akan melambat

Besarnya kebutuhan talenta baru, khususnya di dunia digital, ternyata tidak melahirkan tren perekrutan yang lebih besar. Tercatat, hanya 36% perusahaan yang berencana menambah jumlah karyawan. Angka ini lebih sedikit dibanding tahun 2019 yang mencapai 43% dari total responden.

Dengan mempertimbangkan tingkat turnover dan ekspansi, diperkirakan akan ada 52.000 karyawan yang masuk dan keluar perusahaan. Industri yang paling banyak melakukan penambahan tenaga kerja adalah jasa keuangan dan teknologi.

Menariknya, Mercer menemukan beberapa pekerjaan baru di pasar, antara lain pemasaran digital/internet, pemasaran e-commerce atau belanja online, analisis data dan intelijen bisnis, infrastruktur cloud (IAAS), teknik konfigurasi otomasi proses robot dan pemrograman, dan sains (analisis R&D dan bio informatika)

Tingginya tingkat pengunduran diri

Generasi milenial dinilai tengah memadati tempat kerja saat ini. Indonesia memiliki sekitar 180 juta tenaga kerja pada tahun 2019, dengan 63 juta di antaranya berusia antara 20 hingga 35 tahun. Dari sini, tingkat karyawan yang mengundurkan diri secara sukarela sebesar 7% pada tahun 2019 pada keseluruhan industri. Industri jasa keuangan mengalami tingkat pengunduran diri terbesar, yaitu 14%. Pada tahun 2018, tingkat pengunduran diri berada pada 8%, dengan industri jasa keuangan juga sebagai industri dengan tingkat pengunduran diri terbesar yaitu 12%.

Alasan utama karyawan di Asia mengundurkan diri bervariasi, namun tiga alasan utama karyawan mengundurkan diri adalah gaji yang kompetitif, hubungan dengan atasan, serta tidak adanya jenjang karir dan jaminan yang jelas.

Mengedepankan soft skill

Tidak hanya harus ahli dalam bidang tertentu, kini calon pelamar juga dituntut untuk memiliki soft skill. Soft skill yang dimaksud adalah kepandaian tentang kemampuan sosial dan emosional seperti komunikasi dan empati. Harapannya, perusahaan mendapatkan kandidat yang  bisa beradaptasi dengan peran yang berubah dalam struktur organisasi yang fleksibel.

Seleksi yang lebih personal

Saat ini proses seleksi bisa dikatakan lebih personal. Pasalnya, bukan hanya calon pelamar yang ingin mendapatkan pekerjaan melainkan perusahaan juga butuh kandidat yang terbaik. Perlakuan khusus dan pendekatan yang lebih personal pun banyak diandalkan. Misalnya memberikan masukan pada resume, hingga membuat suasana wawancara kerja yang lebih baik. Dan, yang terpenting adalah memberikan kejelasan, baik untuk kandidat yang diterima maupun ditolak.

Rekrutmen internal

Besarnya biaya perekrutan, membuat perusahaan banyak yang membuka perekrutan di internal mereka. Selain itu, biaya training, kesamaan visi dan misi yang telah terbentuk pada karyawan lama juga menjadi pertimbangan perusahaan. Di sisi lain, upaya ini juga memberikan tantangan baru bagi karyawan lama yang umumnya dapat meningkatkan loyalitas karyawan tersebut.